Sunday, September 22, 2013

Unhealthy Blogging

oleh: Leslie Ludy

Ketika masih berusia tujuh tahun, saya membuat diary sendiri dengan menggunakan kertas kado, karton, pembolong kertas, dan tali. Saya pikir, itu seperti kegiatan KTK (Kerajinan Tangan dan Kesenian) kamp musim panas. Saya begitu bersemangat dengan mahakarya saya ini dan sudah tidak sabar untuk mulai menulis di dalamnya. Beberapa hari kemudian, saya menuliskan cerita pertama saya, yang sebenarnya banyak melanggar kaidah-kaidah ejaan (dalam Bahasa Inggris - penerjemah), "Today I got to go to the zoo. We fed the jirafs and a cloun painted my fase. Then we came home and ate makirony and cheez. It was the best day of my lif.

Di tahun-tahun berikutnya, saya terus menuliskan banyak kisah seru dan menarik di buku diary saya yang berharga itu - rincian tentang pesta ulang tahun saya yang penuh nuansa pink dan ungu, "peternakan cacing hidup" milik saya yang baru saja dibangun di halaman belakang, dan misi saya untuk menjadi juara roller skater ketika nanti saya menginjakkan usia sepuluh tahun. (Sayangnya, ambisi setinggi langit ini tidak pernah tercapai.)

Tidak lama setelah itu, saya menamatkan diary buatan saya sendiri itu dan pindah ke diary yang sesungguhnya - lengkap dengan kunci dan gembok yang istimewa - yang saya simpan di sebuah lokasi tersembunyi di bawah ujung tempat tidur. Seiring dengan bertambahnya usia, saya mulai menuliskan hal-hal yang lebih serius - perasaan, harapan, pergumulan, dan mimpi-mimpi saya. Ketika saya berusia sebelas tahun, saya sudah memiliki setidaknya lima diary berbeda, yang semuanya penuh dengan bermacam-macam hasil perenungan Leslie kecil, dan bersifat begitu pribadi. Saya tidak akan membiarkan seorangpun mendekati diary-diary saya ini. Aturan ini juga saya berlakukan secara ketat bagi kedua adik laki-laki saya, yang terus menerus menjadi ancaman bagi "kode etik diary" saya. Keterangan seperti "Keep Out!" dan "Private - Do Not Read!" terpampang pada kover setiap diary yang saya simpan, bersama dengan gambar-gambar wajah masam yang menakutkan untuk menghalau para pengacau cilik yang mungkin tidak sengaja menemukannya.

Malah di usia sekolah dasar, saya berkukuh meyakini bahwa isi dari diary apapun memang sudah seharusnya bersifat rahasia. Pada kenyataannya, itulah yang menjadi salah satu alasan mengapa diary itu terasa begitu spesial. Lagi pula, jika curahan hati saya dipamerkan ke seantero dunia, tidak akan ada lagi yang tersisa untuk saya simpan dan saya jaga. Semua orang akan tahu segala sesuatunya tentang saya - di mana lagi letak menariknya kalau begitu?

---

Dulu, rasanya wajar-wajar saja menjadikan diary (beserta seluruh isinya) sebagai sesuatu yang sifatnya rahasia. Namun, saat ini kita telah hidup di zaman yang berbeda. Masa kejayaan diary rahasia itu telah berlalu. Sebagai gantinya, muncul sesuatu yang baru dan jauh lebih berpengaruh - blog. Blogging modern memberikan kesempatan bagi kita untuk "menumpahkan" segenap perasaan kita dan pada waktu yang bersamaan membuat orang terkesan dengan kemampuan filosofis kita yang unik dan artistik. Pada dasarnya, blog adalah sebuah diary - dengan pembaca. Semua keterangan "Keep Out!" dan "Private - Do Not Read!" tadi telah dihapus. Gemboknya juga sudah dirusak. Alih-alih menjaga perasaan hati dan pemikiran pribadi kita tetap rahasia, blogging modern mendorong kita untuk mempublikasikannya; untuk memasarkan ide-ide dan pemikiran-pemikiran kita secara kreatif demi mendapatkan sejumlah "pengikut".

Tentu saja, ada banyak blog tentang memasak, merajut, atau seputar dunia mesin (wow, kedengarannya sangat membosankan!) yang mungkin tidak termasuk ke dalam kategori ini. Dalam blog-blog semacam ini, penulisnya saling berbagi tips dan trik yang berguna ketimbang berfilsafat secara pribadi dan emosional. Ada pula blog-blog spiritual yang membangun yang ditulis para pemimpin Kristen untuk memberikan nasihat-nasihat bagi para pembacanya berlandaskan Firman Allah. Namun, bukan ini yang dilakukan kebanyakan pemudi modern masa kini lewat blogging.

Bagi mereka, blogging kini lebih berupa publikasi yang tidak sehat atas sejumlah pemikiran dan perasaan yang seharusnya bersifat rahasia, pengalihan perhatian dari hal-hal Kerajaan Allah, dan juga pemborosan sia-sia atas waktu yang sangat berharga.

Salah satu ayat Alkitab favorit saya adalah Lukas 2:19, ketika Maria ibu Yesus "menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya." Maria telah menyaksikan berbagai mukjizat yang luar biasa; dia mendapat kesempatan bertemu malaikat, dia bernubuat, dan dia melahirkan bayi Kristus. Maria secara pribadi telah ikut terlibat dalam rencana Allah bagi keselamatan umat manusia yang terhilang. Jika ada orang yang paling punya alasan untuk menyebarluaskan pemikirannya, pengamatannya, dan pengalamannya, orang itu tentu adalah Maria. Namun demikian, dia justru memilih untuk menyimpan semuanya dan merenungkannya di dalam hatinya sendiri.

Sejak diary pertama saya di usia tujuh tahun hingga jurnal yang saya miliki saat ini, saya memiliki ribuan halaman yang berisi catatan-catatan mengenai pemikiran, mimpi, ketakutan, pergumulan dan doa-doa yang saya miliki sepanjang tahun-tahun kehidupan saya. Dan sampai hari ini, hampir semuanya masih saya rahasiakan - mereka bukan untuk konsumsi publik, melainkan untuk persekutuan pribadi saya dengan Yesus Kristus. Dalam buku-buku maupun artikel-artikel yang saya tulis, saya sering menuliskan tentang pengalaman pribadi atau membagikan kisah spiritual pribadi saya secara ringkas dengan tujuan membangun iman para pembacanya. Hidup saya memang bukanlah sebuah buku yang tertutup. Namun demikian, pikiran-pikiran dan perasaan pribadi saya yang terdalam akan selalu saya simpan dan jaga, jauh dari penglihatan para penghuni dunia, dan hanya dapat diketahui oleh Sang Raja Sorgawi (dan kadang-kadang suami saya juga). Secara tidak langsung, "diary" saya masih memiliki keterangan "Keep Out" di sampul depannya. Dan saya percaya hal tersebut memang sudah sepatutnya demikian!

Sebagai perempuan, Allah memberitahukan kita untuk tidak hanya memancarkan kecantikan fisik saja, tetapi justru mengupayakan agar kecantikan kita memancar keluar dari "manusia batiniah yang tersembunyi": "Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi..." (1 Petrus 3:3-4)

"Janganlah kecantikanmu hanya kecantikan luar, seperti misalnya menghias rambut atau memakai perhiasan, atau berpakaian yang mahal-mahal. Sebaliknya, hendaklah kecantikanmu timbul dari dalam batin..." (1 Petrus 3:3-4, BIS - penerjemah)

Kata-kata "manusia batiniah yang tersembunyi" merujuk pada bagian yang privat, rahasia dari siapa diri kita; perasaan, refleksi, mimpi, pergumulan, dan ide-ide kita. Ketika kita jatuh dalam kebiasaan mempublikasikan pemikiran-pemikiran terdalam kita, kita tidak lagi memiliki "manusia batiniah yang tersembunyi" untuk dijaga; hampir semuanya yang kita pikirkan, harapkan, mimpikan, takutkan, dan rasakan terpampang di luar sana dan dilihat oleh dunia. Memang, bisa saja lebih menarik untuk menaruh pemikiran pribadi kita dalam suatu forum publik ketimbang jurnal pribadi, apalagi ketika orang-orang meninggalkan komentar-komentar yang menyenangkan dan sewaktu jumlah pembacanya makin bertambah setiap kali kita mempublikasikan satu tulisan baru. Namun, go public dengan pemikiran-pemikiran kita dapat dengan cepat mengarahkan kita pada pola hidup yang tidak Alkitabiah, dan menghancurkan misteri kefemininan yang telah Allah siapkan bagi kita untuk kita jaga.

---

Ada banyak bentuk dari blogging yang tidak sehat. Saya akan mencoba menelusuri beberapa di antaranya yang paling umum. Entah itu berupa menghabiskan waktu membaca blog orang lain, entah itu berupa menulis blog Anda sendiri, ataupun bahkan kedua-duanya, berikut ini merupakan tren blogging yang suka tidak suka harus dihindari.

“All About Me” Blogging

Saat ini, kita hidup di tengah budaya masyarakat yang tidak henti-hentinya berusaha memberitahukan betapa diri kita begitu "spesial" dan "penting". Bahkan, Gereja modern juga telah ikut-ikutan meminjam mantra "cintailah dirimu sendiri, jujurlah pada dirimu sendiri", sehingga bahkan apa yang kita sebut selama ini sebagai penyembahan kepada Allah menjadi sarat dengan fokus dan pemuliaan terhadap diri sendiri. Apa yang terjadi di dunia blogging juga tidak jauh berbeda. Para pemudi kerap kali menggunakan platform blog mereka sebagai dalih untuk menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian orang lain, tentang mengapa mereka begitu spesial, unik, cantik, dst. Tentu saja, bentuknya tidak selalu terang-terangan seperti berkata, "Saya benar-benar spesial. Saya harap Anda menyadari hal itu dan mengakui betapa hebatnya saya." Cara menyampaikannya biasanya jauh lebih halus, seperti menceritakan berbagai macam detail tentang selera pribadi kita, kebiasaan tertentu kita, hal-hal yang sering membuat kita jengkel, dan seterusnya. Atau, dengan cara-cara tertentu berusaha menyebutkan betapa kepribadian kita begitu berbeda dan unik. Atau, menghabiskan paragraf demi paragraf menceritakan tentang mimpi-mimpi dan keinginan pribadi Anda dengan begitu mengesankan. Sangatlah mungkin untuk memiliki blog yang sebenarnya berpusat pada diri Anda sepenuhnya meski isinya berulang kali menyebut-nyebut nama Yesus. Banyak blogger Kristen yang berpikir bahwa mereka dapat semakin mendekatkan para pembacanya kepada Yesus Kristus, tetapi pada kenyataannya mereka hanya meninggikan diri mereka sendiri. Eric dan saya menyebutnya sebagai "keegoisan yang dispiritualkan." Ian Thomas menjelaskan konsep ini dengan baik ketika dia berkata, "Sangat mencengangkan mengetahui bahwa bahkan Tuhan dapat digunakan sebagai dalih untuk melakukan penyembahan terhadap diri sendiri, ini kembali memperlihatkan betapa setan sangat jenius untuk memutarbalikkan kebenaran dan menyesatkan manusia - karena godaan ini jugalah Adam dan Hawa jatuh di Taman Eden!"

Saudariku, marilah kita tidak menggunakan "platform blogging Kristen" sebagai dalih untuk meninggikan diri sendiri. Tujuan dari percakapan apapun, baik tertulis maupun lisan, pada akhirnya haruslah membuat orang lain memiliki pandangan yang jelas terhadap Yesus Kristus, dan sebaliknya, pandangan yang justru kabur tentang kita. Sebagaimana Yohanes Pembaptis sampaikan, "Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil." (Yoh 3:30)

(Catatan penulis: Jika ingin mengetahui lebih lanjut tentang topik ini, saya menyarankan Anda untuk mendengarkan khotbah Eric yang berjudul Spiritualized Selfishness.)

“Fishing for a Guy” Blogging

Seaneh kedengarannya, banyak pemudi yang sebenarnya berburu dan berupaya menarik hati para pemuda lewat blog pribadi mereka - bahkan kadang-kadang tanpa mereka sadari. Ketika blog Anda menjadi tempat mencurahkan emosi Anda, sebuah ajang pamer dari hal-hal yang Anda gemari atau benci, ataupun sebuah kesempatan untuk menyuarakan mimpi-mimpi romantis dan hasrat terpendam Anda, Anda telah menjadikan hati Anda sebagai buku yang terbuka bagi setiap pria yang membacanya kapanpun ia menginginkannya. Hal ini tidak hanya akan menghancurkan misteri kodrati yang telah Tuhan berikan bagi Anda, tetapi para pria juga bisa memanfaatkan setiap detail pribadi yang Anda sampaikan di blog Anda sebagai salah satu cara untuk memanipulasi hati Anda. Ketimbang menanyai Anda secara langsung, berusaha mengenali Anda, atau mempelajari dan mengamati hidup Anda dari waktu ke waktu, seorang pria dapat saja dengan mudahnya menggunakan semua informasi yang telah Anda sampaikan dalam blog Anda dan mulai bersandiwara menjadi sosok seorang pria yang ia tahu akan membuat hati Anda meleleh.

Hal yang sama juga berlaku sebaliknya. “Fishing for a Guy” blogging merupakan sebuah cara yang kreatif untuk memanipulasi hati kaum pria. Bukannya menantikan Allah, mengendalikan perasaan-perasaan mereka, dan membiarkan Allah yang menuliskan naskah kisah cinta mereka di waktu-Nya yang selalu tepat, para wanita kerap kali berupaya membuat para pria pembaca blog mereka terkesan dengan mempertunjukkan sisi humoris mereka, ide-ide unik mereka, kemampuan artistik mereka, kepribadian mereka yang menarik, dan masih banyak lagi yang lainnya. Ketika seorang perempuan menulis di blognya tentang "what I want in a guy", ia seperti sedang berada di dalam sebuah ruangan yang penuh dengan para high-quality jomblo, dan berdiri di depan mereka semua sembari mengumumkan bahwa saat ini ia sedang mencari si Pangeran Tampan, bahwa ia sedang menjadikan mimpi-mimpi romantisnya sebagai fokus utama kehidupannya, dan bahwa ia benar-benar sangat berharap seorang pria pada akhirnya akan menunjukkan ketertarikan padanya. Benar-benar bukanlah sebuah resep yang tepat bagi impresi kewanitaan yang saleh.

Jika Anda ingin menuliskan kualitas-kualitas apa saja yang Anda inginkan dalam diri seorang pria, atau berteori tentang mimpi-mimpi romantis yang telah Tuhan taruhkan dalam hati Anda, sebuah jurnal pribadi merupakan tempat yang paling tepat untuk melakukannya. Jadikan ini sebagai sesuatu yang personal, yang hanya Anda ceritakan pada Sang Raja Surgawi, Sang Penulis semua cerita cinta dan romansa kehidupan, dan Sang Penjaga hati Anda - bukan sesuatu yang Anda ceritakan pada setiap pria yang mampir ke blog Anda. Pasangan hidup Anda di masa depan tentu saja akan sangat menghargai sikap Anda ini. Dan yang jauh lebih penting, Anda akan memuliakan Mempelai Surgawi Anda dengan kehati-hatian Anda ini.

(Catatan penulis: Jika ingin mengetahui lebih lanjut tentang topik ini, saya menyarankan Anda untuk membaca Answering the Guy Questions.)

“Blah, Blah, Blah” Blogging

2 Tim 2:16 berkata, “Tetapi hindarilah omongan yang kosong dan yang tak suci yang hanya menambah kefasikan." Istilah "omongan yang kosong" di sini berarti, “pembicaraan yang tidak bermutu, pembicaraan tentang hal-hal yang sia-sia dan tidak berguna." Benar-benar gambaran yang sempurna dari kebanyakan blog modern saat ini! Ocehan yang sia-sia, berfilsafat secara emosional, obrolan yang benar-benar tidak memiliki tujuan selain dari pada ingin terdengar keren dan mengesankan seputar hal-hal yang tidak begitu penting - inilah yang sedang populer di tengah-tengah komunitas blogging saat ini. Namun, "omongan yang kosong" adalah kebalikan dari percakapan yang saleh. Roma 14:19 berkata, “Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun." Kata "membangun" di sini berarti, “membangun sesama dalam iman mereka, untuk mendukung pertumbuhan sesama dalam hikmat, kesalehan, kekudusan Kristiani, dst." Jika kita telah memilih untuk menulis blog, seharusnya yang menjadi tujuan utama kita adalah untuk mengajar para pembacanya; untuk membangun iman mereka dalam Yesus Kristus dan mendukung mereka secara rohani melalui apa yang kita bagikan. Dengan kata lain, jika Anda tidak memiliki sesuatu yang benar-benar penting, membangun, dan memuliakan Allah untuk disampaikan, janganlah memperkatakannya (atau menuliskannya di blog) sama sekali! Yesus mengatakan dalam Matius 12:36, "... Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggung-jawabkannya pada hari penghakiman." Semoga kita selalu mempertimbangkan matang-matang setiap kata yang kita ucapkan (dan tuliskan) dalam terang kekekalan.

“Fan Club” Blogging

Saat ini, memperoleh popularitas sepertinya jauh lebih mudah daripada ketika saya masih muda dulu, terima kasih pada komunitas blogging global karenanya. Dulu, untuk menjadi salah satu "anak gaul", Anda harus mengenakan pakaian yang pas, menggunakan bahasa gaul yang cocok, dan memposisikan diri Anda secara strategis di tengah-tengah komunitas. Sekarang, jika Anda tahu bagaimana caranya duduk manis di depan laptop dan menulis blog dengan cara yang ngehip, trendi, artistik, atau unik, Anda dapat dengan mudah menjadi populer, memperoleh kelompok penggemar Anda sendiri, dan membiarkan ego Anda bertambah besar karena dipupuk dengan banyaknya komentar-komentar bernada setuju yang ditinggalkan orang-orang di situs blog Anda. “Fan club factor” merupakan salah satu aspek yang paling berbahaya dan mencandukan dari dunia blogging. Ada terlalu banyak blogger pemudi yang menghabiskan banyak sekali waktu dan energi untuk "bersaing" memperoleh lebih banyak lagi pengikut dan melihat ada lebih banyak lagi komentar diposkan di blog mereka. Mereka kecanduan tepuk tangan dan persetujuan dari dunia luar, dan inilah yang memotivasi mereka untuk menulis blog, kendati sering mempermaklumkan bahwa blog mereka itu "all about Jesus." Tapi apakah yang Allah katakan tentang mereka yang berkeinginan mencuri kemuliaan yang hanyalah milikNya? Mari kita lihat gambaran singkat yang diberikan Alkitab:

Dan pada suatu hari yang ditentukan, Herodes mengenakan pakaian kerajaan, lalu duduk di atas takhta dan berpidato kepada mereka. Dan rakyatnya bersorak membalasnya: "Ini suara allah dan bukan suara manusia!" Dan seketika itu juga ia ditampar malaikat Tuhan karena ia tidak memberi hormat kepada Allah, ia mati dimakan cacing-cacing. (Kisah Para Rasul 12:21-23).

Meski contoh kisah ini sedikit ekstrem, kita harus mengevaluasi diri kita menggunakan standar yang sama yang dikenakan pada Herodes. Jika pengakuan, penghargaan, dan penghormatan menjadi motivasi dari setiap hal yang kita lakukan, kita telah menuju ke arah yang salah, dan secara diam-diam kita telah mencuri kemuliaan dan mencari puji-pujian yang sebenarnya hanyalah milik Allah seorang. Bila Anda mendapati diri Anda terus-terusan mengecek berapa banyak jumlah pengikut baru yang Anda miliki, terus-terusan mengintip komentar-komentar yang orang lain berikan, dan merasa cemburu terhadap blogger lainnya yang memiliki jumlah pengikut lebih banyak daripada Anda, sudah jelas bahwa Anda adalah salah seorang "fan club blogger" ketimbang seorang blogger yang menulis blog semata-mata untuk kemuliaan Kristus.

“Fake Preacher” Blogging

Salah satu hal yang paling berbahaya tentang Internet adalah bahwa Internet menjadikan semua orang sejajar; pendeta senior yang telah melayani selama 50 tahun dapat saja memiliki pengaruh lebih kecil di dunia maya ketimbang remaja-remaja "bau kencur" berusia 18 tahun yang tahu-tahu lebih ahli menulis di blog. Dunia maya telah menghilangkan seluruh interaksi di dunia nyata yang personal dengan sesama dan hanya memungkinkan kita untuk mengenali sebagian kecil saja dari siapa mereka yang sesungguhnya. Sebagai hasilnya, kita sering kali cenderung menilai kredibilitas seseorang dari seberapa baik mereka merangkai kata-kata, ketimbang mendasarkan penilaian kita pada karakter asli mereka yang sesungguhnya. Orang-orang dengan pengertian yang sangat minim akan firman Tuhan dapat saja menerima pengaruh spiritual dari orang lain hanya karena blog mereka terkesan luar biasa secara spiritual. Saya menyebutnya sebagai "fake preacher" blogging. Dalam kehidupan nyata, bisa jadi para blogger ini sebenarnya hanya memikirkan diri sendiri, sangat duniawi, dan lemah secara rohani, tetapi di dunia blogging mereka terlihat seperti raksasa iman dan teladan yang menyerupai Kristus. Dalam 1 Timotius 3, Paulus memberikan persyaratan yang sangat detail dan spesifik bagi para pengajar dan pemimpin. Paulus memperingatkan bahwa mereka yang melatih, mengajar, dan memuridkan tidak boleh seorang pemula, tetapi haruslah orang-orang yang telah diuji dan dibuktikan terlebih dahulu sebelum mereka akhirnya dapat memberi pengaruh kepada orang lain (lih. 1 Tim 3:6, 10). Jangan pernah sekalipun kita menelan mentah-mentah nasihat rohani dari blog orang lain hanya karena mereka bisa menulis dengan baik. Segala sesuatu harus selalu diuji dengan firman Allah, bukan hanya dari seberapa indah kedengarannya kata-kata yang dituliskan.

Dalam kaitannya dengan blogging yang Anda lakukan, menuliskan sesuatu yang sederhana, membangun kesalehan, dan mendorong keserupaan dengan Kristus adalah hal yang sangat baik, tetapi hindari upaya-upaya untuk mengajar, melatih, dan memuridkan orang lain jika memang Anda belum berkualifikasi untuk melakukannya.

Yakobus 3:1 berkata, "... janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat." Mengajar orang lain tentang hal-hal kerajaan Allah adalah sesuatu yang harus dilakukan dengan rasa takut dan gentar, karena kita tahu bahwa suatu hari nanti kita harus mempertanggungjawabkan setiap kata yang kita katakan (atau tuliskan) kepada Sang Pencipta kita. Kebenaran yang kita perkatakan (atau tuliskan) harus pertama-tama diujikan, diusahakan, dan dibuktikan dalam kehidupan kita sendiri sebelum kita benar-benar mampu mengajarkannya kepada orang lain secara efektif.

---

Blogging, sama seperti Facebook, film, atau musik, pada dasarnya tidaklah buruk. Semuanya dapat dimanfaatkan untuk memuliakan Allah. Namun, karena ada banyak jebakan yang menanti kita dalam dunia blogging, saya menyarankan Anda untuk membawa area kehidupan Anda ini kepada Allah, dan mengizinkanNya (sama sekali bukan tren saat ini) untuk membentuk cara Anda dalam menulis sekaligus membaca blog. Bersedialah melepaskannya selama satu masa, atau seumur hidup, jika memang Dia menginginkannya. Tidak ada satu hal pun yang lebih penting daripada hubungan pribadi Anda dengan Yesus Kristus, apalagi jika itu hanyalah sekumpulan kata-kata kosong yang beredar di dunia maya.

Sungguh, Dialah yang layak atas segala sesuatu - bahkan hal-hal yang "baik" dalam kehidupan kita harus kita letakkan di atas kakiNya. (Dan jika Anda akhirnya memutuskan untuk menukar blog Anda dengan sebuah diary, saya dapat mengajarkan Anda bagaimana caranya membuat diary Anda sendiri dari kertas kado dan karton!)*

Sumber: http://setapartgirl.com/magazine/article/03-1-12/time-wasters-part-nine

No comments: